Rabu, 15 Agustus 2007

Ekoponik Lobster Dipanen, Selada Dipetik

Oleh admin Senin, 20 Februari 2006 12:45:29

Teknik itulah yang diterapkan David Attawater, hobiis lobster asal Australia. Setiap 4-5 bulan, ia memamen lobster dan selada dari halaman belakang rumah. Padahal di sana tak terlihat kolam pembesaran atau akuarium berukuran besar layaknya peternak lobster. Yang tampak hanya barisan selada di atas talang hidroponik dan beberapa kolam fiber tertutup styrofoam. Namun, saat penutup putih itu diangkat tampak ratusan crayfish-nama lain lobster air tawar-berukuran 10-12 cm berkecipak.

Ini lobster ekoponik, ujarnya. Dengan menggunakan jaring, ia mengangkat 5-6 lobster berbobot sekitar 80-90 g itu ke dalam ember. Ia lalu melangkah ke kolam lain yang jaraknya hanya 2-3 langkah. Di sana 12 ikan silver perch berbobot 250 g/ekor dipanen. David mengambil 2 ekor Bidyanus bidyanus kesukaannya lalu memetik beberapa helai selada dari talang hidroponik. Hari itu sup lobster lengkap dengan sayuran hasil dari kebun ekoponik menjadi menu spesial.

Lobster ekoponik

Terobosan terbaru di dunia lobster yang diterapkan pakar di bidang hidroponik itu kini mulai dilirik di Indonesia. David menyebutnya sistem ekoponik karena memadukan akuaponik dan hidroponik. Prinsip teknik ini, air berputar dari satu kolam ke kolam lain tanpa ada yang terbuang. Meski di lahan sempit dan sumber air terbatas, David bisa membesarkan lobster, selada, dan tanaman hias sekaligus.

Ekoponik yang dibuat David terdiri dari kolam ikan berukuran 3,4 m x 1 m x 1 m berisi ikan air tawar. Lalu 3 talang NFT sepanjang masing-masing 3 m ditanami selada hijau, 2 tumpukan styrofoam sebagai biofi lter, kolam permanen yang dilengkapi tanaman air sebagai fi lter alami, tangki pembersih racun, dan kolam lobster berukuran 1,5 m x 0,5 m x 0,5 m. Setiap bagian dihubungkan dengan pipa PVC berdiameter 3,5 cm sepanjang 2-3 meter. Di ujung pipa diberi lubang sebanyak 15-20 buah sebagai tempat keluar air sekaligus aerator. Air didorong menggunakan 2 pompa otomatis yang beroperasi setiap 15 menit. Dengan cara itu kebutuhan oksigen terlarut tetap terjamin.

Nitrat dan amonium

Cara kerjanya? Sebanyak 500-600 liter air dalam kolam ikan menjadi sumber air utama bagi sistem ekoponik. Dari sana air dialirkan ke kolam lobster dan talang hidroponik. Nah, supaya air terbebas dari nitrat, amonium, dan polutan lain yang beracun, sebelumnya dimasukkan ke dalam kolam berisi paku-pakuan seperti Boston ferns, maiden hair ferns, dan selada. Tanaman-tanaman itu bertugas sebagai penyerap kelebihan nitrat yang berbahaya bagi lobster. Nitrat dan amonium justru dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman air.

Lantaran sistem ekoponik dirancang untuk menyuplai nutrisi secara kontinu, nitrat dan amonia yang terkandung dalam kotoran ikan dan lobster harus difi lter. Dari kolam lobster, nitrat, amonia, dan zat padat terlarut dialirkan melalui pipa PVC berdiameter 3,5 cm sepanjang 1-2 m menuju tangki pembersihan. Di dalam tangki berkapasitas 65 liter itu racun-racun ditangkap menggunakan katup dan kain yang dilekatkan pada ujung pipa.

Agar lebih steril, alumnus Grafton National Fishing Industry Education Centre, Austalia, itu menyaring kembali air di kolam penyaringan. Kolam berukuran 0,5 m x 0,2 m x 0,3 m dilengkapi tanaman air Bacopa monniera yang berfungsi sebagai penahan kerikil dan kotoran padat lain. Sebanyak 10-15 tanaman air itu diletakkan di dalam lubang di dasar kolam.

Dengan sistem gravitasi, air kemudian mengalir secara otomatis ke biofi lter yang posisinya lebih rendah. Biofi lter sederhana itu berupa 10 tumpukan boks styrofoam yang dasarnya diberi 4-5 lubang kecil dan dialasi jaring halus. Setiap tumpukan berisi ratusan bola-bola kecil yang bertugas menangkap sisa nitrit (NO2) dan nitrat (NO3). Nah, air itulah yang dipompa kembali menuju kolam lobster dan NFT, kata David.

Pemberian nutrisi

Ir Cuncun Setiawan, peternak lobster kawakan di Jakarta, berpendapat beternak lobster dengan sistem ekoponik dapat diterapkan asal pasokan air bebas racun. Bila kondisi air bagus lobster pasti tumbuh sehat, kata Cuncun. Menurutnya sistem ekoponik pada lobster cocok untuk skala hobiis karena efi sien di lahan sempit. Namun, sulit diterapkan untuk pembesaran karena hewan bercangkang itu memerlukan lahan luas untuk tumbuh besar.

Tak hanya air bersih dan oksigen terlarut yang diperlukan. Pakan berupa pelet juga diberikan 2-3% dari bobot tubuh atau sekitar 200-300 g/hari. Selain itu lobster diberi tambahan pakan berupa kulit wortel, vitamin, dan mineral. Menurut Yos Sutiyoso, pakar hidroponik di Jakarta, selada hidroponik dan tanaman hias air dapat tumbuh sehat lantaran mendapatkan suplai nutrisi berupa N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Cu, Zn, B, dan Mo dari kotoran ikan dan lobster yang terurai. Kotoran ikan dan lobster mengandung zat yang diperlukan selada. Hanya perlu dicermati jumlah nutrisi yang dipasok ikan dan lobster, kata Yos. Menurutnya pasokan pakan dan nutrisi berbanding lurus dengan kotoran yang dihasilkan.

Parameter air

Pertumbuhan lobster, ikan air tawar, hingga tanaman air tergantung kondisi air. Oleh karena itu, David rutin mengecek kandungan oksigen terlarut, pH, dan suhu. Dengan sistem air berputar terus-menerus, oksigen terlarut dicapai di atas 5 ppm. Semakin tinggi kadar oksigen terlarut maka proses respirasi dan metabolisme semakin bagus. Suhu air dipertahankan 23-26oC.

Kadar keasaman air dijaga 7. Maklum, bila pH naik maka kadar amonia juga meningkat sehingga membahayakan ikan dan lobster. Bila pH terlalu rendah, kalsium karbonat (CaCO3) diberikan hingga pH netral. Pemberian kalsium karbonat terlalu banyak mengakibatkan persentase amonia dalam air juga naik. Pokoknya kalau pH sudah netral jangan ditambahkan lagi, sarannya.

Dengan perawatan relatif mudah seperti membersihkan pompa dan biofi lter, serta mengukur parameter air seminggu sekali, lobster, ikan air tawar, selada pun tumbuh sehat bersama-sama.(Rahmansyah Dermawan)

Johan Efendi - Laba Tinggi Usai Dijepit Yabby

Oleh admin Senin, 20 Februari 2006 12:49:37

Pembeli bibit lobster Cherax quadricarinatus terus berdatangan ke farmnya seluas 200 m2 di Kopen, Yogyakarta. Mereka datang dari berbagai kota seperti Surabaya, Malang, Semarang, Purwokerto, Jambi, dan Gorontalo. Total jenderal pria 39 tahun itu memasarkan 6.000 lobster ukuran 5 cm per bulan, 2.000 ekor di antaranya hasil budidaya sendiri.

Untuk menghasilkan bibit lobster itu ia memerlukan waktu 2 bulan. Biaya yang digelontorkan cuma Rp750 per ekor sehingga total ongkos produksi Rp1.500.000. Sedangkan 4.000 ekor lain diperoleh dari rekannya anggota Asosiasi Pembudidaya Lobster Air Tawar Indonesia (APLATI). Ia hanya mengutip untung Rp500 per ekor. Laba bersih yang ditangguk alumnus Teknik Sipil Universitas Atmajaya Yogyakarta itu dari penjualan lobster 5 cm Rp5,5-juta per bulan. Itu di luar penjualan induk siap pijah berumur 7 bulan.

Harga satu set indukan-terdiri atas 3 jantan dan 5 betina-yang telah berjodoh Rp450.000. Padahal, dalam sebulan Johan menjual 30-35 set senilai Rp13,5-juta-Rp15,7-juta. Untuk membesarkan induk besar itu ia menghabiskan Rp2.000 per ekor alias Rp480.000-Rp560.000. Untung bersih dari penjualan induk siap pijah mencapai Rp13-juta setiap bulan.

Ceruk besar

Permintaan bibit memang deras mengalir. Namun, hingga saat ini tak semuanya terlayani. Masih ada permintaan 2.000 ekor per bulan yang gagal dipasok. Maklum, di Kopen, Yogyakarta, kelahiran Palembang 10 Agustus 1966 itu hanya mengelola 22 bak pembenihan terbuat dari semen. Di sana terdapat 20 bak berukuran 2 m x 2 m masing-masing terdiri atas 1 set induk dan 2 bak 5 m x 1 m yang diisi 15 set induk. Di Giwangan, Bantul, ayah 3 anak itu juga mengelola sebuah kolam semen 40 m2 terdiri atas 240 indukan.

Dari total 500 indukan itulah Johan Efendi memetik 2.000 lobster 5 cm dan 35 set indukan per bulan. Pasar lobster konsumsi juga minta pasokan. Syaratnya lobster hidup terdiri atas 3 ekor per kg. Harganya disepakati Rp250.000. Alih-alih Memenuhi permintaan mereka, untuk bibit pun belum terlayani sepenuhnya.

Johan Efendi tak serta-merta menggapai pasar empuk itu. Modal Rp1-juta amblas ketika 400 lobster yang ditebar meregang nyawa. Musababnya, suhu air di Wonosobo berketinggian 1.000-an m dpl amat dingin. Anggota famili Cambaridae itu hanya bertahan 14 hari. Pilihan lokasi di kaki Gunung Sumbing itu terbukti keliru, habitat yabby di daerah beriklim hangat.

Itu bukan kegagalan terakhir. Pada September 2004 lagi-lagi ia merasakan pedihnya dicapit lobster. Sekitar 40 set induk mati karena air tercemar pakan berupa cacing sutra yang mati sehingga terjadi polusi amonia. Sekitar Rp18-juta modalnya pun membusuk. Tiga bulan berselang giliran 1.540 ekor ukuran 5 cm terkapar lantaran diracun orang tak dikenal. Ia rugi Rp5-jutaan.

Di tengah keterpurukan tersisa semangat untuk melanjutkan pembesaran kerabat udang itu. Untuk mengantisipasi kegagalan itu ia lebih intens mencari informasi soal red claw di dunia maya hingga tengah malam. Selain itu ia juga mencari saran dari peternak lain di berbagai kota.

Strategi itu ternyata tidak mengelakkan Johan dari bencana. Pertengahan 2005 setidaknya 1.200 ekor berumur 2 bulan akhirnya mati. Saat itu Johan menebar lobster ukuran 5 cm di sebuah kolam koi berdinding semen dan dasar berlumpur. Satwa air itu banyak yang hilang dan lambat perkembangannya. Kemungkinan kompetisi makanannya kalah dibanding koi yang perkembangannya cepat, tuturnya. Kerugian yang dideritanya Rp3,6-juta.

Ragam komoditas

Kegagalan beragribisnis sejatinya bukan hal baru bagi Johan Efendi. Sebelum menggeluti lobster pada April 2003, ia sempat membudidayakan puyuh di Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia memasarkan 5.000 piyik per bulan ke Boyolali, Klaten, dan Salatiga.

Badai krisis moneter pada 1998 menghantam usahanya. Saat itu harga pakan melonjak 3 kali lipat menjadi Rp200.000 dari sebelumnya Rp70.000 per sak. Usaha puyuh itu lesu darah dan akhirnya gulung kandang.

Johan kembali mencoba peruntungan bisnis. Pilihan jatuh pada parkit Melopsittacus undulatus sekadar meneruskan usaha kerabatnya yang pulang ke Palembang. Namun, usaha itu hanya bertahan setahun karena harga pakan yang mahal, mencapai Rp6.000 dari sebelumnya Rp2.500 per kg. Komoditas bawang daun menjadi pilihan berikutnya pada 2000. Anak ke-9 dari 10 bersaudara itu memasok 12 ton kg bawang daun segar per pekan ke raksasa produsen mi. Pehobi tenis itu mengumpulkan Allium fistulosum dari beberapa pekebun. Pada 2002 setelah setahun digeluti, bisnis bawang daun pun berhenti.

Baru pada 2003 ia melirik lobster. Ini pasti bakal lebih prospektif dibandingkan puyuh, parkit, atau bawang daun. Sebagai ikan konsumsi prospeknya bagus dan memiliki nilai ekonomis tinggi, katanya. Johan membuat 5 akuarium masing-masing 1 m x 0,5 m x 0,4 m di ruang tamunya. Setiap akuarium diisi 5 set indukan dengan total nilai Rp5- juta. Hasilnya, sekitar 2.500 burayak. Satu ekor induk menghasilkan 150-200 ekor pada proses peneluran pertama, ujarnya.

Saat itu lobster air tawar terbilang komoditas baru yang menawan calon pengusaha agribisnis. Dengan cepat lobster produksi Johan terserap pasar dengan harga tinggi: Rp30.000 per ekor ukuran 5 cm. Hasil penjualan perdana itu digunakan untuk ekspansi usaha di Kopen. Dari sanalah kini gelimang rupiah didapat di antara kesibukannya mendirikan ratusan hunian. Di sana pula ia menghabiskan waktu usai pulang kerja dan menanggalkan jabatan direktur. Meski untuk, sesaat sebelum akhirnya ia kembali bermetamorfosis. (Sardi Duryatmo/Peliput: Hanni Sofia).

GETAH PEPAYA

Oleh admin Senin, 20 Februari 2006 18:00:00

Jaring Peneduh

Benih berukuran 5 cm rentan cacat. Misal putus capit saat dikirim dalam jumlah padat. Penyebabnya bermacam-macam, dari gesekan hingga berkelahi dengan sesama. Indra peternak di Jelambar, Jakarta Barat, menutup dasar boks dengan jaring peneduh. Benih dituang lalu ditutup shading net kembali. Cara itu ampuh melindungi benih dari kerusakan. ***

Lingkaran Hulahop

Kiambang Pistia stratiotes sering dimanfaatkan pendeder sebagai pelindung benih dari sengatan matahari dan cucuran air hujan. Namun, bila jumlahnya banyak sampai nyaris menutup permukaan kolam, jadi masalah ketika menebar pakan. Kumpulkan kiambang dalam beberapa lingkaran seperti hulahop, ujar Setiadi di Purwokerto. Cara praktis itu terbukti memudahkan pemberian pakan tanpa mengurangi peran sang tanaman air.***

Pesta Red Claw

Oleh admin Senin, 20 Februari 2006 18:01:00

Ketika itulah masyarakat setempat menyambut musim panas dengan pesta pora. Pesta meriah itu dilangsungkan di Restoran Saari di Sirplaasari, Helsinki, nyaris setiap hari. Di sana para tamu bakal dimanjakan dengan kelezatan hidangan olahan para ahli kuliner profesional. Menunya? Semangkuk besar lobster rebus, 4 iris roti tawar, 1 cup bir, dan semangkuk saos. Pengunjung tak perlu takut kehabisan. Untuk pesta itu pihak restoran mengimpor langsung red claw dari Australia.

Pesta yang digelar sejak 1998 itu senantiasa dibanjiri tamu. Tidak hanya lokal, pengunjung dari Perancis, Inggris, Amerika, Jepang, dan Belanda tertarik datang. Mereka bahkan perlu mengantre untuk mendapatkan tempat duduk. Maklum, kursi yang disediakan terbatas, hanya 200 bangku. Untuk setiap porsi bagi 4 orang, pihak restoran mengutip biaya US$150 setara Rp1,4-juta. (Dian Adijaya S)

Agar Lobster Papua Naik Pelaminan

Oleh admin Senin, 20 Februari 2006 18:10:44

Peristiwa naas itu terjadi setahun silam.Dengan berat hati, Doni-demikian ia dipanggil-mengangkat satu per satu lobster berukuran 7-10 cm itu dari akuarium berukuran 1 m x 0,5 m x 0,6 m. Modal yang dicemplungkan untuk memboyong 3 set lobster senilai Rp750-ribu/set pun hilang tanpa bekas. Jangankan menghasilkan telur, mengawinkannya aja sangat sulit. Jadi, kita tidak bisa produksi, kata alumnus Universitas Surabaya itu kesal.

Menurut suami Novy Kusumawardhani itu ia sudah merawat lobster papua dengan telaten. Pakan diberikan 2 kali sehari. Pergantian air rutin dilakukan seminggu sekali. Tak habis pikir, kok bisa mati. Padahal perawatan sama dengan redclaw, ucap Doni. Usaha lain menyilangkan dengan redclaw juga sia-sia belaka.

Susah makan

Kesulitan juga dialami pemain lama yang mencoba menangkarkan lobster papua. Sri Hardono misalnya, setahun silam 30 lobster black tiger meregang nyawa di farmnya di bilangan Lentengagung, Jakarta Selatan. Mereka mati satu per satu. Sekarang tinggal 10 ekor, ujarnya.

Seperti Doni, Hardono pun sudah telaten merawat lobster berkulit belang mirip harimau itu. Kondisi air seperti pH, 7-8; suhu dan pergantian air rutin dicek. Pakan pelet sebanyak 2-3% dari bobot tubuh/ekor diberikan sehari sekali pada sore hari. Obat penumbuh lumut juga ditebar agar kondisi kolam sesuai dengan habitat aslinya.

Namun, pengorbanan ayah Dewi May Cahyanti itu sia-sia. Lobster peliharaan mati satu per satu. Ia malas makan, gerakannya pun lamban. Pertumbuhan juga sangat lambat, katanya. Menurut pengamatan Hardono selama 6 bulan ukuran tubuh tetap sama seperti saat dibeli, 6-7 cm. Bandingkan dengan red claw yang bisa berukuran 2 kali lipat pada umur sama.

Adaptasi

Sulitnya perawatan lobster papua seperti Cherax monticola, C. lorentzi, C. orange, black tiger, dan blue brick lantaran mereka kurang adaptif dengan lingkungan baru. Tak heran bila peternak lobster di Jakarta, Surabaya, Malang, dan daerah lain, harus mati-matian menjinakkannya agar tidak mati.

Menurut Cuncun Setiawan, pemilik Bintaro Fish Center, Jakarta Selatan, beragam penyebab kematian lobster papua. Pengemasan yang tidak benar hingga perawatan di kolam yang kurang baik. Lobster yang dikirim saat pergantian kulit, kematian bisa mencapai 50% lebih, ujar Cuncun. Itu lantaran perubahan suhu selama dalam perjalanan. Pengemasan yang baik menggunakan sabut kelapa basah atau memakai kotak plastik transparan berisi kertas basah. Agar tetap lembap dan basah, es batu ditaruh di dalam boks styrofoam. Selain itu, lobster sebaiknya dikirim tidak dalam kondisi moulting alias ganti kulit.

Lobster-lobster papua itu sensitif. Perubahan suhu air yang tajam atau berbenturan bisa mngakibatkan stres, ujar FX Santoso, peternak asal Surabaya. Oleh karena itu Santoso-demikian ia disapa- sangat memperhatikan 2 indukan black tiger, 30 blue brick, 100 C. lorentzi, dan 30 C. orange miliknya. Di farmnya di bilangan Rungkut Permai, Surabaya, ia menggunakan air bersih bersuhu rendah, maksimal 24oC. Aerator berarus sedang juga diberikan untuk menyuplai kebutuhan oksigen.

Agar anggota keluarga Crustaceae itu hidup nyaman, Cuncun merancang kolam semen berukuran 2 m x 1 m x 0,3 m. Kolam dibuat rata dengan permukaan tanah agar suhu dalam kolam tetap dingin. Kolam yang mampu menampung 100 lobster berukuran jumbo-rata-rata 15 cm/ekor-itu juga dilengkapi filter dan aerator.

Kolam atau akuarium dibuat agak gelap. Maklum, di habitat aslinya seperti di Timika, Wamena, dan Lembah Baliem, lobster papua banyak berdiam di tepi sungai yang agak gelap. Karena itu penutup dari asbes atau jaring 70-80% bisa diletakkan di atas kolam. Tidak gelap sama sekali tetapi cahaya yang masuk jangan terlalu banyak, kata Cuncun. Batu bata dan pipa PVC tetap disediakan sebagai tempat sembunyi.

Air yang digunakan sebaiknya diendapkan selama 12 jam agar pH stabil. Air itu kemudian dimasukkan ke dalam kolam setinggi 20-30 cm. Selain itu aerator diatur agar tidak menghasilkan arus deras. Tiga hari sekali air dikuras sebanyak 30% dari total volume. Itu dimaksudkan agar lobster tidak kaget dengan kondisi air baru. Kotoran dan sisa pakan harus dibuang. Dengan cara itu, pH air tetap bisa dipertahankan 7,5-8.

Pakan

Untuk pakan, masing-masing peternak memiliki resep. Santoso misalnya, selain pelet, menggunakan cacing tanah, tauge, dan ubi. Pagi hari lobster sarapan dengan pelet dan cacing tanah. Sore hari diberi tauge atau ubi.

Resep Cuncun berbeda lagi. Pria berkulit putih itu rutin memberikan pelet, cacing tanah, dan umbi-umbian sebagai pakan. Biasanya dosis pakan 2-3% dari bobot tubuh diberikan 2 kali. Dua puluh lima persen pada pagi hari dan sisanya pada malam hari. Pertimbangannya lobster lebih aktif malam hari sehingga porsi pakan lebih banyak.

Lobster papua termasuk malas makan. Jadi, perlu diperhatikan dosis pemberian pakan. Bila terdapat banyak endapan di dasar kolam, pakan sebaiknya dikurangi sedikit demi sedikit. Setiap hari harus dicek agar kebutuhan pakannya bisa diketahui, ujar Cuncun. Maklum, sisa pakan berlebih menimbulkan endapan sehingga air cepat kotor.

Setelah berumur 4-5 bulan atau berukuran 8-10 cm, lobster papua dikawinkan massal. Untuk luasan kolam 1 m x 2 m, jumlah jantan dan betina 1:3. Artinya, perkawinan 10 jantan dengan 30 betina dalam 1 kolam efektif mendapatkan banyak anakan dalam waktu singkat.

Setelah 2-3 minggu dikawinkan, indukan ukuran jumbo mampu menghasilkan 200-400 telur/induk. Telur dipindahkan ke dalam akuarium yang kondisinya sama dengan kolam. Suhu dipertahankan 24-310C dengan pH 7-8. Bila suhu di bawah 240C telur menetas lebih lama, bisa mencapai 2 bulan. Bila kondisi air stabil, 5 minggu kemudian telur menetas. Pertumbuhan lobster papua memang lambat, tetapi dengan perawatan intensif black tiger, C. lorentzi, dan C. monticola bisa dipijahkan. Intinya harus telaten merawat, kata Cuncun. (Rahmansyah Dermawan)

Di Mana Makan Lobster Air Tawar?

Oleh admin Senin, 20 Februari 2006 18:11:46

Jakarta

  • Restoran Seafood Samudera, Jl. Jenderal Sudirman, Menara BRI II Lantai 8, Jakarta Pusat

    Menu:

    1. Lobster air tawar ala Singapura
    2. Sashimi
    3. Lobster panggang mentega
    4. Lobster panggang keju Harga Rp47.800 per ons
  • Hotel Borobudur, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

    Menu: insidental

  • Hotel Horison, Jl. Pantai Indah, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara

    Menu: insidental

Bali

  • Hotel Amandari, Ubud

    Menu:

    1. Wok fried thai style, yabbies with chili jam, holy basil and peppercorn, harga Rp190.000 per porsi
    2. Sweet corn and basil soup with basil sauleed yabbies fails and basil oil, Rp155.000 per porsi
    3. Fresh yabbies tail spaghetti with chili, garlic, and italian parsley, Rp185.000 per porsi
    4. Grilled fresh yabbie with balinese spice paste and fresh lime, Rp185.000 per porsi
  • Hotel Amanusa, Nusa Dua

    Menu:

    1. Poached papua freshwater yabbies, Rp120.000 per porsi
    2. Papua yabbie broth, Rp375.000 per porsi

Yogyakarta

  • Rumah Makan Pondok Laguna, Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 14, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta

    Menu:

    1. Lobster fruit salad, Rp42.000 per porsi
    2. Lobster mornay dengan french fries, Rp42.000 per porsi
  • Bamboe Resto, Jl. Veteran, Yogyakarta

    Menu:

    1. Lobster saus tiram
    2. Lobster bakar
    3. Lobster goreng mentega
    Harga Rp105.000 per paket kecil, Rp150.000 (sedang), Rp180.000 (besar).

Si Capit Merah di Seantero Dunia

Oleh admin Senin, 20 Februari 2006 18:12:21

Bumi nusantara bukan tak punya lobster air tawar. Nun di pedalaman Papua ada C. lorentzi, monticola, dan black tiger. Mereka hidup di aliran sungai-sungai di Lembah Baliem. Namun, lantaran tidak dibudidayakan, gaungnya tak bergema. Lain halnya dengan kondisi di Australia, Amerika Serikat, Cina, dan Taiwan. Di sana crawfish-nama populernya-dibudidayakan intensif. Dari sekitar 400 spesies 15 jenis yang dibudidayakan.

Hasil panen lobster air tawar dari negara-negara itu melanglang hingga ke Eropa. Di sana hewan bercapit itu jadi makanan berkelas. Malah di Swedia setiap tahun ada festival memasak dan makan lobster.

Festival yang sama juga kerap diadakan di Louisiana-sentra utama lobster air tawar di Amerika Serikat. Tahun ini festival itu direncanakan pada 22 April. Negara bagian yang berbatasan dengan Teluk Meksiko itu pun kaya resep-resep hidangan berbahan lobster air tawar.

Sebut saja gubo dan jambalaya. Hidangan itu berupa nasi yang diguyur kuah berbumbu rempah. Potongan daging, udang, dan lobster air tawar dicemplungkan ke dalam kuah sebelum ditumpahkan ke atas nasi. Itulah makanan khas orang-orang keturunan Perancis yang tinggal di sana. Penasaran dengan kondisi lobster air tawar di negara lain? Inilah sebaran hewan bercangkang itu di seluruh dunia.

Amerika Serikat
  • Hampir 300 spesies lobster air tawar ada di Amerika Serikat. Hewan invertebrata itu diternakkan sebagai bahan pangan dan pakan ternak. Peternakan lobster untuk konsumsi kebanyakan ada di Louisiana, Mississippi, dan Texas. Lobster dipelihara di kolam-kolam dangkal seperti sawah.
  • Kolam-kolam dikeringkan setiap akhir musim semi untuk ditanami padi, alligator grass Alternanthera phylloxeroides, dan water primerose Jussiaea spp. Itulah pakan alami hewan bercapit itu. Pada saat itulah induk-induk lobster kawin dan bertelur pada awal musim gugur. Pada musim gugur anak-anak lobster mulai membesar dan siap dipanen pada awal musim semi tahun berikut, sekitar Maret-Mei.
  • Hasil tangkapan lobster air tawar konsumsi mencapai 100-juta pound setara 48,5 ton per tahun. Produksi terbesar dari Louisiana. Mayoritas yang diusahakan adalah red swamp crayfish Procambarus clarkii-ini asli Amerika, berwarna dominan merah-dan white river crayfi sh P. acutus.
  • Penanaman di Louisiana dimulai pada 1970-an. Ketika itu ribuan bibit ditebar di kolam dengan total luas 7.000 ha. Pertengahan 1980-an budidaya menyebar ke Texas, Mississippi, dan Florida. Lalu menyebar ke Missouri dan Virginia.

Sumber: www.aqualink.com, www.nap.edu

Eropa
  • Astacus astacus jenis lobster air tawar asli Eropa. Hewan bercangkang itu ditemukan hampir di semua negara Eropa. Sebut saja Austria, Belanda, Belarusia, Belgia, Denmark, Estonia, Finlandia, Inggris, Jerman, Norwegia, Spanyol, hingga Rusia. Jenis lain, Austropotamobius pallipes alias lobster air tawar bercapit putih dan A. torrentium.
  • Pada paruh awal 1980 diintroduksi Procambarus clarkii dari Kenya ke Austria dan Italia. Jenis itu sebelumnya sering dijajakan di pasar-pasar becek. Di Italia peternakannya tersentra di Tuscany-terutama di Danau Massaciuccoli. Jenis introduksi yang juga berkembang A. leptodactylus.

Sumber: www.sea-river-news.com

Taiwan
  • Taiwan salah satu konsumen lobster air tawar dunia. Yang banyak dijajakan hidup-hidup di pasar tradisional di sana C. quadricarinatus. Itu diimpor dari Australia. Harga jual di Pulau Formosa NT$600 per kg segar. Tak sekadar jadi pembeli, peternak di negara berbentuk daun tembakau itu pun kemudian membudidayakan lobster air tawar. Jenis yang diusahakan C. quadricarinatus dan Procambarus clarkii.
  • Jenis yang disebut terakhir, salah satu yang bernilai komersial di Taiwan. Budidaya dilakukan di sungai kecil, kolam, dan sawah. Menurut data The Illustrated Lobsters of Taiwan yang dipublikasikan pada 1993, P. clarkii dijual di toko akuarium sebagai ikan hias dengan harga NT$25 per ekor dan NT$334 per kg sebagai konsumsi.
Selandia Baru
  • Ada 2 spesies koura-sebutan lobster air tawar di sana-yang hidup di Pulau Utara dan Pulau Selatan bagian barat laut. Jenis Paranephrops planifrons-yang paling lazim ditemukan. Yang lebih besar dan gemuk, P. zelandicus, hidup di bagian timur Pulau Selatan.
  • Lobster air tawar ditemukan di sungai, danau, dan rawa. Belum ada budidaya intensif di sana.

Sumber: www.seakeepers-nz.com

Australia
  • Australia salah satu yang paling kaya jenis lobster air tawar. Hampir 100 spesies yang masuk anggota famili Parastacidae ditemukan di sana. Lebih dari 20 jenis asli Queensland, termasuk lobster air tawar terkecil di dunia swamp crayfish alias si lobster rawa Tenuibranchiurus glypticus. Panjangnya hanya 25 mm. Ada juga Astacopis gouldii, bobotnya mencapai 6,3 kg-lobster air tawar terbesar di dunia.
  • Secara umum crawfish yang ada di Australia terbagi atas 3 genus, Cherax (smooth freshwater crayfi sh alias yabby), Euastacus (spiny freshwater crayfish), dan Tenuibranchiurus. Jenis-jenis Euastacus banyak ditemukan di Australia bagian timur, seperti di Queensland. Sementara Cherax alias yabby atau lobbies hampir ada di seluruh Australia dan Papua Nugini. Dari kelompok inilah muncul 3 lobster air tawar komersial, yaitu yabby Cherax destructor, redclaw Chreax quadricarinatus-disebut juga gilgie alias si capit merah, dan marron Cherax tenuimanus.
  • Yabby diproduksi di New South Wales (NSW), Victoria, Queensland, dan South Australia. Marron aslinya dari Western Australia, sekarang mulai menyebar ke selatan terutama di Pulau Kanguru. Sementara redclaw banyak diproduksi di Queensland, Northen Territory, dan NSW. Saat ini ada 126 peternakan di NSW yang berlisensi memproduksi lobster air tawar. Redclaw dan marron dibudidayakan semiintensif dengan kolam buatan, sementara yabby memanfaatkan bendungan- bendungan.
  • Menurut data Rural Industries Research and Development Corporation (RIRDC), produksi lobster air tawar di Australia pada kurun 1996-1999 rata-rata 421 ton per tahun. Produksi yabby mencapai 73% dari total produksi. Sekitar 58%-nya datang dari Western Australia. Pada 2004/2005 nilai itu diprediksi mencapai 1.589 ton.
  • Produksi itu diekspor ke Eropa dan Asia Tenggara, serta pasar baru seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan Amerika Serikat. Rata-rata kebutuhan pasar 2.000 ton per tahun. (Evy Syariefa)
Sumber: www.rirdc.gov.au, www.fisheries.nsw.gov.au, www.Qmuseum.qdl.gov.au